<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Boerawapekanbaru&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://boerawapekanbaru.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://boerawapekanbaru.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 24 Mar 2010 09:48:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='boerawapekanbaru.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Boerawapekanbaru&#039;s Blog</title>
		<link>http://boerawapekanbaru.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://boerawapekanbaru.wordpress.com/osd.xml" title="Boerawapekanbaru&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://boerawapekanbaru.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>pedoman pembibitan kambing yang baik</title>
		<link>http://boerawapekanbaru.wordpress.com/2010/03/24/pedoman-pembibitan-kambing-yang-baik/</link>
		<comments>http://boerawapekanbaru.wordpress.com/2010/03/24/pedoman-pembibitan-kambing-yang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 09:35:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>boerawapekanbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[pedoman beternak kambing dan domba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://boerawapekanbaru.wordpress.com/2010/03/24/pedoman-pembibitan-kambing-yang-baik/</guid>
		<description><![CDATA[LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 57/Permentan/OT.160/10/2006 TANGGAL : 20 Oktober 2006 PEDOMAN PEMBIBITAN KAMBING DAN DOMBA YANG BAIK (GOOD BREEDING PRACTICE) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kambing dan domba merupakan ternak yang memiliki sifat toleransi yang tinggi terhadap bermacam-macam pakan hijauan serta mempunyai daya adaptasi yang baik terhadap berbagai keadaan lingkungan. Pengembangan kambing [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=boerawapekanbaru.wordpress.com&amp;blog=12779252&amp;post=4&amp;subd=boerawapekanbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN<br />
NOMOR : 57/Permentan/OT.160/10/2006<br />
TANGGAL : 20 Oktober 2006<br />
PEDOMAN PEMBIBITAN KAMBING DAN DOMBA YANG BAIK<br />
(GOOD BREEDING PRACTICE)<br />
BAB I<br />
PENDAHULUAN<br />
A. Latar Belakang<br />
Kambing dan domba merupakan ternak yang memiliki sifat toleransi yang<br />
tinggi terhadap bermacam-macam pakan hijauan serta mempunyai daya<br />
adaptasi yang baik terhadap berbagai keadaan lingkungan. Pengembangan<br />
kambing dan domba mempunyai prospek yang baik karena disamping untuk<br />
memenuhi kebutuhan daging di dalam negeri, kambing dan domba juga<br />
memiliki peluang sebagai komoditas ekspor. Untuk itu bibit kambing dan<br />
domba merupakan salah satu faktor produksi yang menentukan dan<br />
mempunyai nilai strategis dalam upaya pengembangannya secara<br />
berkelanjutan.<br />
Pembibitan kambing dan domba saat ini masih berbasis pada peternakan<br />
rakyat yang berciri skala usaha kecil, manajemen sederhana, pemanfaatan<br />
teknologi seadanya, lokasi tidak terkonsentrasi dan belum menerapkan<br />
sistem dan usaha agribisnis. Kebijakan pengembangan usaha pembibitan<br />
kambing dan domba diarahkan pada suatu kawasan, baik kawasan khusus<br />
maupun terintegrasi dengan komoditi lainnya serta terkonsentrasi di suatu<br />
wilayah untuk mempermudah pembinaan dan pengawasannya.<br />
B. Maksud dan Tujuan<br />
1. Maksud<br />
Maksud ditetapkannya pedoman ini yaitu:<br />
Pedoman Pembibitan Kambing dan Domba Yang Baik 6<br />
a. bagi pembibit, sebagai acuan dalam melakukan pembibitan<br />
kambing dan domba (good breeding practice) untuk menghasilkan<br />
bibit yang bermutu baik;<br />
b. bagi petugas dinas yang membidangi fungsi peternakan dan<br />
kesehatan hewan di daerah, sebagai pedoman dalam melakukan<br />
pembinaan, bimbingan dan pengawasan dalam pengembangan<br />
pembibitan kambing dan domba (good breeding practice).<br />
2. Tujuan<br />
Tujuan ditetapkannya pedoman ini agar dalam pelaksanaan kegiatan<br />
pembibitan kambing dan domba dapat diperoleh bibit kambing dan<br />
domba yang memenuhi persyaratan teknis minimal dan persyaratan<br />
kesehatan hewan.<br />
C. Ruang lingkup<br />
Ruang lingkup yang diatur dalam pedoman ini meliputi:<br />
1. Sarana dan prasarana;<br />
2. Proses produksi bibit;<br />
3. Pelestarian lingkungan;<br />
4. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.<br />
D. Pengertian<br />
Dalam pedoman ini yang dimaksud dengan:<br />
1. Pembibitan adalah kegiatan budidaya menghasilkan bibit ternak untuk<br />
keperluan sendiri atau untuk diperjualbelikan.<br />
2. Bibit ternak adalah semua hasil pemuliaan ternak yang memenuhi<br />
persyaratan tertentu untuk dikembangbiakkan.<br />
3. Spesies adalah sekelompok ternak yang memiliki sifat-sifat genetik<br />
sama, dalam kondisi alami dapat melakukan perkawinan dan<br />
menghasilkan keturunan yang subur.<br />
4. Rumpun adalah sekelompok ternak yang mempunyai ciri dan<br />
karakteristik luar serta sifat keturunan yang sama dari satu spesies.<br />
Pedoman Pembibitan Kambing dan Domba Yang Baik 7<br />
5. Galur adalah sekelompok individu ternak dalam satu rumpun yang<br />
dikembangkan untuk tujuan pemuliaan dan/atau karakteristik tertentu.<br />
6. Pemuliaan ternak adalah rangkaian kegiatan untuk mengubah<br />
komposisi genetik pada sekelompok ternak dari status rumpun atau<br />
galur guna mencapai tujuan tertentu.<br />
7. Pemurnian adalah upaya untuk mempertahankan rumpun dari jenis<br />
(spesies) ternak tertentu.<br />
8. Persilangan adalah cara perkawinan, dimana perkembangbiakan<br />
ternaknya dilakukan dengan jalan perkawinan antara hewan-hewan dari<br />
satu spesies tetapi berlainan rumpun.<br />
9. Seleksi adalah kegiatan memilih tetua untuk menghasilkan keturunan<br />
melalui pemeriksaan dan/atau pengujian berdasarkan kriteria dan tujuan<br />
tertentu dengan menggunakan metoda atau teknologi tertentu.<br />
10. Silsilah adalah catatan mengenai asal-usul keturunan ternak yang<br />
meliputi nama, nomor dan performan dari ternak dan tetua penurunnya.<br />
11. Uji performan adalah pengujian untuk memilih ternak bibit berdasarkan<br />
sifat kualitatif dan kuantitatif meliputi pengukuran, penimbangan dan<br />
penilaian.<br />
12. Sertifikasi bibit adalah proses penerbitan sertifikat bibit setelah melalui<br />
pemeriksaan, pengujian dan pengawasan serta memenuhi semua<br />
persyaratan untuk diedarkan.<br />
13. Village Breeding Center yang selanjutnya disingkat VBC adalah suatu<br />
kawasan pengembangan peternakan yang berbasis pada usaha<br />
pembibitan ternak rakyat yang tergabung dalam kelompok peternak<br />
pembibit.<br />
14. Kawasan sumber bibit adalah wilayah yang mempunyai kemampuan<br />
dalam pengembangan bibit ternak dari rumpun tertentu baik murni<br />
ataupun persilangan secara terkonsentrasi sesuai dengan<br />
agroekosistem, pasar serta dukungan sarana dan prasarana yang<br />
tersedia.<br />
Pedoman Pembibitan Kambing dan Domba Yang Baik 8<br />
15. Wilayah sumber bibit ternak adalah suatu agroekosistem yang tidak<br />
dibatasi oleh administrasi pemerintahan dan mempunyai potensi untuk<br />
pengembangan bibit ternak dari spesies atau rumpun tertentu.<br />
16. Unit pembibitan ternak adalah wilayah sumber bibit dasar (foundation<br />
stock) dan bibit Induk (breeding stock) yang dilengkapi dengan stasiun<br />
uji performan.<br />
BAB II<br />
SARANA DAN PRASARANA<br />
A. Lokasi<br />
Lokasi usaha pembibitan kambing dan domba harus memenuhi persyaratan<br />
sebagai berikut:<br />
1. Tidak bertentangan dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan<br />
Rencana Detail Tata Ruang Daerah (RDTRD) setempat;<br />
2. Mempunyai potensi sebagai sumber bibit kambing dan domba serta<br />
dapat ditetapkan sebagai wilayah sumber bibit ternak;<br />
3. Terkonsentrasi dalam satu kawasan atau satu Village Breeding Center<br />
(VBC) atau satu unit pembibitan ternak;<br />
4. Tidak mengganggu ketertiban dan kepentingan umum setempat, untuk<br />
peternakan yang sudah berbentuk perusahaan dibuktikan dengan izin<br />
tempat usaha;<br />
5. Memperhatikan lingkungan dan topografi sehingga kotoran dan limbah<br />
yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan;<br />
6. Jarak antara usaha pembibitan kambing dan domba dengan usaha<br />
pembibitan unggas minimal 1.000 meter;<br />
7. Khusus pembibitan domba tidak berdekatan dengan sapi Bali.<br />
B. Lahan<br />
Lahan untuk usaha pembibitan kambing dan domba harus memenuhi<br />
persyaratan sebagai berikut:<br />
Pedoman Pembibitan Kambing dan Domba Yang Baik 9<br />
1. Bebas dari jasad renik patogen yang membahayakan ternak dan<br />
manusia;<br />
2. Sesuai dengan peruntukannya menurut peraturan perundang-undangan<br />
yang berlaku.<br />
C. Sumber Air<br />
Usaha pembibitan kambing dan domba hendaknya memiliki sumber air yang<br />
memenuhi kriteria sebagai berikut:<br />
1. Air yang digunakan tersedia sepanjang tahun dalam jumlah yang<br />
mencukupi;<br />
2. Sumber air mudah dicapai atau mudah disediakan;<br />
3. Penggunaan sumber air tanah tidak mengganggu ketersediaan air bagi<br />
masyarakat.<br />
D. Bangunan dan Peralatan<br />
Untuk pembibitan kambing dan domba sistem semi intensif dan intensif<br />
diperlukan bangunan, peralatan, persyaratan teknis dan letak kandang yang<br />
memenuhi persyaratan sebagai berikut:<br />
a. Bangunan:<br />
 kandang pejantan;<br />
 kandang induk;<br />
 kandang pembesaran;<br />
 kandang isolasi ternak yang sakit;<br />
 gudang pakan dan peralatan;<br />
 unit penampungan dan pengolahan limbah.<br />
b. Peralatan:<br />
 tempat pakan dan tempat minum;<br />
 alat pemotong dan pengangkut rumput;<br />
 alat pembersih kandang dan pembuatan kompos;<br />
 peralatan kesehatan hewan;<br />
Pedoman Pembibitan Kambing dan Domba Yang Baik 10<br />
c. Persyaratan teknis kandang:<br />
 konstruksi harus kuat;<br />
 terbuat dari bahan yang ekonomis dan mudah diperoleh;<br />
 sirkulasi udara dan sinar matahari cukup;<br />
 drainase dan saluran pembuangan limbah baik, serta mudah<br />
dibersihkan;<br />
 lantai rata, tidak licin, tidak kasar, mudah kering dan tahan injak;<br />
 luas kandang memenuhi persyaratan daya tampung;<br />
 kandang isolasi dibuat terpisah.<br />
d. Letak kandang memenuhi persyaratan sebagai berikut:<br />
• mudah diakses terhadap transportasi;<br />
• tempat kering dan tidak tergenang saat hujan;<br />
• dekat sumber air;<br />
• cukup sinar matahari, kandang tunggal menghadap timur, kandang<br />
ganda membujur utara-selatan;<br />
• tidak mengganggu lingkungan hidup;<br />
• memenuhi persyaratan higiene dan sanitasi.<br />
E. B i b i t<br />
1. Klasifikasi<br />
Bibit kambing dan domba diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kelompok,<br />
yaitu:<br />
a. bibit dasar (elite/foundation stock), diperoleh dari proses seleksi<br />
rumpun atau galur yang mempunyai nilai pemuliaan di atas nilai<br />
rata-rata;<br />
b. bibit induk (breeding stock), diperoleh dari proses pengembangan<br />
bibit dasar;<br />
c. bibit sebar (commercial stock), diperoleh dari proses pengembangan<br />
bibit induk.<br />
Pedoman Pembibitan Kambing dan Domba Yang Baik 11<br />
2. Standar mutu<br />
Untuk menjamin mutu produk yang sesuai dengan permintaan<br />
konsumen, diperlukan bibit ternak yang bermutu, sesuai dengan<br />
persyaratan teknis minimal setiap bibit kambing dan domba sebagai<br />
berikut:<br />
a. Persyaratan umum:<br />
i. kambing dan domba harus sehat dan bebas dari segala cacat<br />
fisik seperti cacat mata (kebutaan), tanduk patah, pincang,<br />
lumpuh, kaki dan kuku abnormal, serta tidak terdapat kelainan<br />
tulang punggung atau cacat tubuh lainnya;<br />
ii. semua kambing dan domba betina harus bebas dari cacat alat<br />
reproduksi, abnormal ambing serta tidak menunjukkan gejala<br />
kemandulan;<br />
iii. kambing dan domba jantan harus siap sebagai pejantan serta<br />
tidak menderita cacat pada alat kelaminnya.<br />
b. Persyaratan khusus:<br />
Persyaratan khusus yang harus dipenuhi untuk masing-masing<br />
rumpun ternak adalah sebagai berikut:<br />
Kambing Peranakan Ettawah<br />
Kualitatif Kuantitatif<br />
- Warna bulu belang hitam, putih,<br />
merah, coklat,dan kadang-kadang<br />
putih;<br />
- Tanduk kecil;<br />
- Muka cembung, daun telinga<br />
panjang dan terkulai ke bawah,<br />
bergelambir yang cukup besar;<br />
- Daerah belakang paha, ekor dan<br />
dagu berbulu panjang.<br />
Betina umur 8-12 bulan<br />
Tinggi badan minimal 55 cm<br />
Berat badan minimal 15 kg<br />
Jantan umur 12-18 bulan<br />
Tinggi badan minimal 65 cm<br />
Berat badan minimal 20 kg<br />
Pedoman Pembibitan Kambing dan Domba Yang Baik 12<br />
Kambing Kacang<br />
Kualitatif Kuantitatif<br />
- Warna bulu bervariasi dari putih<br />
campur hitam, coklat atau hitam<br />
sama sekali;<br />
- Tanduk mengarah ke belakang dan<br />
membengkok keluar;<br />
- Hidung lurus, leher pendek, telinga<br />
pendek berdiri tegak ke depan,<br />
kepala kecil dan ringan.<br />
Betina umur 8-12 bulan<br />
Tinggi badan minimal 46 cm<br />
Berat badan minimal 12 kg<br />
Jantan umur 12-18 bulan<br />
Tinggi badan minimal 50 cm<br />
Berat badan minimal 15 kg.<br />
Kambing Saanen Lokal<br />
Kualitatif Kuantitatif<br />
- Warna belang-belang hitam putih atau<br />
merah atau cokelat putih;<br />
- Tidak bertanduk/bertanduk kecil;<br />
- Kepala ringan, leher panjang dan<br />
halus, dahi lebar, teling pendek dan<br />
mengarah ke samping;<br />
- Kuku lurus dan kuat;<br />
- Tubuh panjang, dada lebar dan dalam,<br />
ambing dan puting susu besar dan<br />
lunak.<br />
Betina umur 8-12 bulan<br />
Berat badan minimal 40 kg<br />
Jantan umur 12-18 bulan<br />
Berat badan minimal 40 kg<br />
Domba Garut<br />
Kualitatif Kuantitatif<br />
- Warna bulu putih, hitam atau putih<br />
dan hitam;<br />
- Betina tidak bertanduk;<br />
- Jantan bertanduk melingkar besar<br />
dan berukuran besar, pangkal<br />
tanduk kanan dan kiri hampir<br />
bersatu;<br />
- Tubuh lebar, besar dan kekar, kaki<br />
kokoh, daun telinga sedang,<br />
terletak dibelakang tanduk;<br />
- Telinga rumpun seperti daun, hiris<br />
bulu halus dan panjang.<br />
Betina umur 8-12 bulan<br />
Tinggi badan minimal 62 cm<br />
Berat badan minimal 30 kg<br />
Jantan umur 12-18 bulan<br />
Tinggi badan minimal 75 cm<br />
Berat badan minimal 60 kg<br />
Pedoman Pembibitan Kambing dan Domba Yang Baik 13<br />
Domba Ekor Gemuk<br />
Kualitatif Kuantitatif<br />
- Warna bulu putih dan kasar, tidak<br />
bertanduk;<br />
- Ekor besar lebar dan panjang.<br />
Betina umur 8-12 bulan<br />
Tinggi badan minimal 52 cm<br />
Berat badan minimal 25 kg<br />
Jantan umur 12-18 bulan<br />
Tinggi badan minimal 60 cm<br />
Berat badan minimal 60 kg<br />
Domba Lokal<br />
Kualitatif Kuantitatif<br />
- Warna bulu bermacam-macam;<br />
- Betina tidak bertanduk, jantan<br />
bertaduk kecil tidak melingkar;<br />
- Bentuk badan kecil<br />
Betina umur 8-12 bulan<br />
Tinggi badan minimal 40 cm<br />
Berat badan minimal 10 kg<br />
Jantan umur 12-18 bulan<br />
Tinggi badan minimal 45 kg<br />
Berat badan minmal 15 kg<br />
F. Pakan<br />
1. Setiap usaha pembibitan kambing dan domba harus menyediakan<br />
pakan yang cukup bagi ternaknya, baik yang berasal dari pakan<br />
hijauan, maupun pakan konsentrat.<br />
2. Pakan hijauan dapat berasal dari rumput, leguminosa, sisa hasil<br />
pertanian dan dedaunan yang mempunyai kadar serat yang relatif tinggi<br />
dan kadar energi rendah. Kualitas pakan hijauan tergantung umur<br />
pemotongan, palatabilitas dan ada tidaknya zat toksik (beracun) dan anti<br />
nutrisi.<br />
3. Pakan konsentrat yaitu pakan dengan kadar serat rendah dan kadar<br />
energi tinggi, tidak terkontaminasi mikroba, penyakit, stimulan<br />
pertumbuhan, hormon, bahan kimia, obat-obatan, mycotoxin melebihi<br />
tingkat yang dapat diterima oleh negara pengimpor.<br />
4. Air minum disediakan tidak terbatas (ad libitum).<br />
Pedoman Pembibitan Kambing dan Domba Yang Baik 14<br />
G. Obat hewan<br />
1. Obat hewan yang digunakan meliputi sediaan biologik, farmasetik,<br />
premik dan obat alami.<br />
2. Obat hewan yang dipergunakan seperti bahan kimia dan bahan biologik<br />
harus memiliki nomor pendaftaran. Untuk sediaan obat alami tidak<br />
dipersyaratkan memiliki nomor pendaftaran.<br />
3. Penggunaan obat keras harus di bawah pengawasan dokter hewan<br />
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di<br />
bidang obat hewan.<br />
H. Tenaga Kerja<br />
Tenaga yang dipekerjakan pada pembibitan ternak kambing dan domba<br />
harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:<br />
1. Sehat jasmani dan rohani;<br />
2. Tidak memiliki luka terbuka;<br />
3. Jumlah tenaga kerja sesuai kebutuhan, yaitu setiap 1 (satu) orang/hari<br />
kerja, untuk 5 (lima) satuan ternak (ST).<br />
4. Telah mendapat pelatihan teknis pembibitan kambing dan domba,<br />
kesehatan hewan dan keselamatan kerja.<br />
BAB III<br />
PROSES PRODUKSI BIBIT<br />
A. Pemeliharaan<br />
Dalam pembibitan kambing dan domba, pemeliharaan ternak dapat<br />
dilakukan dengan sistem semi intensif dan sistem intensif.<br />
1. Sistem semi intensif yaitu pembibitan kambing dan domba yang<br />
menggabungkan antara sistem pastura dan sistem intensif. Pada<br />
sistem ini dapat dilakukan pembibitan kambing dan domba dengan cara<br />
pemeliharaan di padang penggembalaan dan dikandangkan.<br />
Pedoman Pembibitan Kambing dan Domba Yang Baik 15<br />
2. Sistem intensif yaitu pembibitan kambing dan domba dengan<br />
pemeliharaan di kandang. Pada sistem ini kebutuhan pakan disediakan<br />
penuh.<br />
B. Produksi<br />
Berdasarkan tujuan produksinya, pembibitan kambing dan domba<br />
dikelompokkan ke dalam pembibitan kambing dan domba rumpun murni dan<br />
pembibitan kambing dan domba persilangan.<br />
1. Pembibitan kambing dan domba rumpun murni, yaitu<br />
perkembangbiakan ternaknya dilakukan dengan cara mengawinkan<br />
kambing dan domba yang sama rumpunnya.<br />
2. Pembibitan kambing dan domba persilangan, yaitu perkembangbiakan<br />
ternaknya dilakukan dengan cara perkawinan antar ternak dari satu<br />
spesies tetapi berlainan rumpun.<br />
C. Seleksi Bibit<br />
Seleksi bibit kambing dan domba dilakukan berdasarkan penampilan<br />
(performance) anak dan individu calon bibit kambing dan domba tersebut,<br />
dengan mempergunakan kriteria seleksi sebagai berikut:<br />
1. Kambing dan Domba induk<br />
a. induk harus dapat menghasilkan anak secara teratur 3 (tiga) kali<br />
dalam 2 tahun;<br />
b. frekuensi beranak kembar relatif tinggi;<br />
c. total produksi anak sapihan diatas rata-rata.<br />
2. Calon pejantan<br />
a. bobot sapih terkoreksi terhadap umur 90 (sembilan puluh) hari umur<br />
induk dan tipe kelahiran dan disapih;<br />
b. bobot badan umur 6, 9, dan 12 bulan diatas rata-rata;<br />
c. pertambahan bobot badan pra dan pasca sapih baik;<br />
d. libido dan kualitas spermanya baik;<br />
e. penampilan fenotipe sesuai dengan rumpunnya;<br />
Pedoman Pembibitan Kambing dan Domba Yang Baik 16<br />
3. Calon induk<br />
a. bobot sapih terkoreksi terhadap umur 90 (sembilan puluh) hari tipe<br />
kelahiran dan disapih;<br />
b. bobot badan umur 6 dan 9 bulan di atas rata-rata;<br />
c. pertambahan berat badan pra dan pasca sapih baik;<br />
d. penampilan fenotipe sesuai dengan rumpunnya.<br />
D. Perkawinan<br />
Dalam upaya memperoleh bibit yang berkualitas, perkawinan kambing dan<br />
domba dilaksanakan sebagai berikut:<br />
1. Teknik kawin alam dengan rasio jantan dan betina 1:5-10.<br />
2. Teknik Inseminasi Buatan (IB) menggunakan semen beku atau semen<br />
cair dari pejantan yang sudah teruji kualitasnya dan dinyatakan bebas<br />
dari penyakit hewan menular yang dapat ditularkan melalui semen.<br />
3. Dalam pelaksanaan kawin alam maupun IB harus dilakukan pengaturan<br />
penggunaan pejantan atau semen beku/semen cair untuk menghindari<br />
terjadinya kawin sedarah (inbreeding).<br />
E. Ternak Pengganti (Replacement Stock )<br />
Pengadaan ternak pengganti (replacement stock), dilakukan sebagai berikut:<br />
1. Calon bibit betina dipilih 25% terbaik untuk replacement, 25% untuk<br />
pengembangan populasi kawasan, 40% dijual ke luar kawasan sebagai<br />
bibit dan 10% dijual sebagai ternak afkir;<br />
2. Calon bibit jantan dipilih 10% terbaik pada umur sapih dan bersama<br />
calon bibit betina 25% terbaik untuk dimasukkan pada uji performan.<br />
F. Afkir (Culling)<br />
Pengeluaran ternak yang sudah dinyatakan tidak memenuhi persyaratan<br />
bibit (afkir/culling), dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:<br />
1. Untuk bibit rumpun murni, 50% kambing dan domba bibit jantan<br />
peringkat terendah saat seleksi pertama (umur sapih terkoreksi)<br />
dikeluarkan dengan dikastrasi dan 40%nya dijual ke luar kawasan;<br />
Pedoman Pembibitan Kambing dan Domba Yang Baik 17<br />
2. Kambing dan domba betina yang tidak memenuhi persyaratan sebagai<br />
bibit (10%) dikeluarkan sebagai ternak afkir;<br />
3. Kambing dan domba induk yang tidak produktif segera dikeluarkan.<br />
G. Pencatatan (Recording)<br />
Setiap usaha pembibitan kambing dan domba hendaknya melakukan<br />
pencatatan (recording), meliputi:<br />
1. Rumpun;<br />
2. Silsilah;<br />
3. Perkawinan (tanggal, pejantan, IB/kawin alam);<br />
4. Kelahiran (tanggal, bobot lahir);<br />
5. Penyapihan (tanggal, bobot badan);<br />
6. Beranak kembali (tanggal, paritas);<br />
7. Pakan (jenis, konsumsi);<br />
8. Vaksinasi, pengobatan (tanggal, perlakuan/treatment);<br />
9. Mutasi (pemasukan dan pengeluaran ternak);<br />
10. Score wool penutup tubuh (khusus untuk domba).<br />
H. Persilangan<br />
Persilangan yaitu salah satu cara perkawinan, perkembangbiakan ternaknya<br />
dilakukan dengan cara perkawinan antara hewan-hewan dari satu spesies<br />
yang berlainan rumpun. Untuk mencegah penurunan produktivitas akibat<br />
persilangan, harus dilakukan menurut ketetuan sebagai berikut:<br />
1. Kambing dan domba yang akan disilangkan harus berukuran di atas<br />
standar atau setelah beranak pertama;<br />
2. Komposisi darah kambing dan domba persilangan sebaiknya dijaga<br />
komposisi darah kambing dan domba temperatenya tidak lebih dari<br />
50%;<br />
3. Prinsip-prinsip seleksi dan culling sama dengan pada rumpun murni.<br />
I. Sertifikasi<br />
Sertifikasi dilakukan oleh lembaga sertifikasi yang telah diakreditasi. Dalam<br />
hal belum ada lembaga sertifikasi yang terakreditasi, sertifikasi dapat<br />
Pedoman Pembibitan Kambing dan Domba Yang Baik 18<br />
dilakukan oleh lembaga yang ditunjuk oleh pejabat yang berwenang.<br />
Sertifikasi bertujuan untuk meningkatkan nilai ternak.<br />
Sertifikat bibit kambing dan domba terdiri dari:<br />
1. Sertifikat pejantan dan betina unggul untuk kambing dan domba hasil uji<br />
performan;<br />
2. Sertifikat induk elite untuk kambing dan domba induk yang telah<br />
terseleksi dan memenuhi standar.<br />
J. Kesehatan Hewan<br />
Untuk memperoleh hasil yang baik dalam pembibitan kambing dan domba<br />
harus memperhatikan persyaratan kesehatan hewan yang meliputi:<br />
1. Situasi penyakit<br />
Pembibitan kambing dan domba harus terletak di daerah yang tidak<br />
terdapat gejala klinis atau bukti lain tentang penyakit radang limpa<br />
(Ánthrax), kluron menular (Brucellosis) dan kudis (scabies).<br />
2. Pencegahan/Vaksinasi<br />
a. pembibitan kambing dan domba harus melakukan vaksinasi dan<br />
pengujian/tes laboratorium terhadap penyakit hewan menular<br />
tertentu yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang;<br />
b. mencatat setiap pelaksanaan vaksinasi dan jenis vaksin yang<br />
dipakai dalam kartu kesehatan ternak;<br />
c. melaporkan kepada Kepala Dinas yang membidangi fungsi<br />
peternakan dan kesehatan hewan setempat terhadap kemungkinan<br />
timbulnya kasus penyakit, terutama yang diduga/dianggap sebagai<br />
penyakit hewan menular;<br />
d. penggunaan obat hewan harus sesuai dengan ketentuan dan<br />
diperhitungkan secara ekonomis;<br />
e. pemotongan kuku dilakukan minimal 3 (tiga) bulan sekali;<br />
Pedoman Pembibitan Kambing dan Domba Yang Baik 19<br />
f. dilakukan tindakan Biosecurity. Dalam rangka pengamanan<br />
kesehatan setiap pembibitan kambing dan domba harus<br />
memperhatikan hal-hal tindak biosecurity sebagai berikut:<br />
1). Lokasi usaha tidak mudah dimasuki binatang liar serta bebas<br />
dari hewan piaraan lainnya yang dapat menularkan penyakit;<br />
2). Melakukan desinfeksi kandang dan peralatan dengan<br />
menyemprotkan insektisida pembasmi serangga, lalat dan<br />
hama lainnya;<br />
3). Untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dari satu<br />
kelompok ternak ke kelompok ternak lainnya, pekerja yang<br />
melayani ternak yang sakit tidak diperkenankan melayani<br />
ternak yang sehat;<br />
4). Menjaga agar tidak setiap orang dapat bebas keluar masuk<br />
kandang ternak yang memungkinkan terjadinya penularan<br />
penyakit;<br />
5). Membakar atau mengubur bangkai kerbau yang mati karena<br />
penyakit menular;<br />
6). Menyediakan fasilitas desinfeksi untuk staf/karyawan dan<br />
kendaraan tamu dipintu masuk perusahaan;<br />
7). Segera mengeluarkan ternak yang mati dari kandang untuk<br />
dikubur atau dimusnahkan oleh petugas yang berwenang; dan<br />
8). Mengeluarkan ternak yang sakit dari kandang untuk segera<br />
diobati atau dipotong oleh petugas yang berwenang.<br />
BAB IV<br />
PELESTARIAN LINGKUNGAN<br />
Setiap usaha pembibitan kambing dan domba hendaknya selalu memperhatikan<br />
aspek pelestarian lingkungan, antara lain dengan melakukan langkah-langkah<br />
sebagai berikut:<br />
Pedoman Pembibitan Kambing dan Domba Yang Baik 20<br />
1. Menyusun rencana pencegahan dan penanggulangan pencemaran<br />
lingkungan sebagaimana diatur dalam:<br />
a. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Ketentuan-Ketentuan<br />
Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup;<br />
b. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai<br />
Dampak Lingkungan (AMDAL);<br />
c. Peraturan Pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan<br />
(AMDAL).<br />
2. Melakukan upaya pencegahan pencemaran lingkungan, sebagai berikut:<br />
a. mencegah terjadinya erosi dan membantu pelaksanaan penghijauan di<br />
areal peternakan;<br />
b. mencegah terjadinya polusi dan gangguan lain seperti bau busuk,<br />
serangga, pencemaran air sungai dan lain-lain;<br />
c. membuat dan mengoperasionalkan unit pengolah limbah peternakan<br />
(padat, cair, gas) sesuai kapasitas produksi limbah yang dihasilkan.<br />
Pada peternakan rakyat dapat dilakukan secara kolektif oleh kelompok.<br />
BAB V<br />
MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN<br />
A. Monitoring dan Evaluasi<br />
Untuk mempertahankan kualitas bibit kambing dan domba yang dihasilkan,<br />
perlu dilakukan monitoring dan evaluasi sebagai berikut:<br />
1. Monitoring dan evaluasi kualitas bibit dilakukan secara berkala dengan<br />
sampling acak minimal sekali setahun.<br />
2. Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan pengumpulan data performan<br />
tubuh, performan produksi, performan reproduksi dan kesehatan bibit<br />
kambing dan domba.<br />
Monitoring dan evaluasi dilakukan oleh pejabat fungsional pengawas bibit<br />
ternak di dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan<br />
Pedoman Pembibitan Kambing dan Domba Yang Baik 21<br />
kabupaten/kota atau pejabat yang ditunjuk secara khusus oleh Kepala Dinas<br />
yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan setempat.<br />
B. Pelaporan<br />
Pejabat fungsional pengawas bibit ternak atau petugas yang ditunjuk pada<br />
dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan<br />
kabupaten/kota wajib membuat laporan tertulis secara berkala setiap 6<br />
(enam) bulan sekali dan laporan tahunan kepada Kepala Dinas yang<br />
membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan kabupaten/kota.<br />
Di samping laporan tersebut di atas, setiap pelaku usaha pembibitan<br />
kambing dan domba wajib membuat laporan teknis dan administratif secara<br />
berkala untuk kepentingan internal, sehingga apabila terjadi hal-hal yang<br />
tidak diinginkan dapat diadakan perbaikan secepatnya.<br />
BAB VI<br />
PENUTUP<br />
Pedoman ini bersifat dinamis dan akan disesuaikan kembali apabila terjadi<br />
perubahan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta<br />
kebutuhan masyarakat.<br />
MENTERI PERTANIAN,<br />
ANTON APRIYANTONO</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/boerawapekanbaru.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/boerawapekanbaru.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/boerawapekanbaru.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/boerawapekanbaru.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/boerawapekanbaru.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/boerawapekanbaru.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/boerawapekanbaru.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/boerawapekanbaru.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/boerawapekanbaru.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/boerawapekanbaru.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/boerawapekanbaru.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/boerawapekanbaru.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/boerawapekanbaru.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/boerawapekanbaru.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=boerawapekanbaru.wordpress.com&amp;blog=12779252&amp;post=4&amp;subd=boerawapekanbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://boerawapekanbaru.wordpress.com/2010/03/24/pedoman-pembibitan-kambing-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/be0535ff5144dc476106910f420ab747?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">boerawapekanbaru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://boerawapekanbaru.wordpress.com/2010/03/24/hello-world/</link>
		<comments>http://boerawapekanbaru.wordpress.com/2010/03/24/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 09:20:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>boerawapekanbaru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=boerawapekanbaru.wordpress.com&amp;blog=12779252&amp;post=1&amp;subd=boerawapekanbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_5" class="wp-caption alignleft" style="width: 253px"><a href="http://boerawapekanbaru.files.wordpress.com/2010/03/imag02191.jpg"><img class="size-medium wp-image-5" title="zaid dan boerawa" src="http://boerawapekanbaru.files.wordpress.com/2010/03/imag02191.jpg?w=243&#038;h=300" alt="boer peranakan etawa" width="243" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">anakan f1 boer</p></div>
<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/boerawapekanbaru.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/boerawapekanbaru.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/boerawapekanbaru.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/boerawapekanbaru.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/boerawapekanbaru.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/boerawapekanbaru.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/boerawapekanbaru.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/boerawapekanbaru.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/boerawapekanbaru.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/boerawapekanbaru.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/boerawapekanbaru.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/boerawapekanbaru.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/boerawapekanbaru.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/boerawapekanbaru.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=boerawapekanbaru.wordpress.com&amp;blog=12779252&amp;post=1&amp;subd=boerawapekanbaru&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://boerawapekanbaru.wordpress.com/2010/03/24/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/be0535ff5144dc476106910f420ab747?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">boerawapekanbaru</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://boerawapekanbaru.files.wordpress.com/2010/03/imag02191.jpg?w=243" medium="image">
			<media:title type="html">zaid dan boerawa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
